Emang kenapa kalo duda?

“Kamu sebegitu desperate-nya kah sampai harus memilih seorang duda?”

Begitu pertanyaan seorang sahabat lama ketika kami chatting di YM beberapa waktu lalu. Sebagai kawan lama yang lama tak berjumpa tentunya biasa saling tanya kabar. Dan kabar wajib yang harus disampaikan tentu saja soal pasangan.

Begitulah responnya ketika aku katakan padanya bahwa saat ini kekasihku adalah seseorang yang (hampir) duda. Terus terang aja aku menangkap nada sinis dan kurang respek dalam komentarnya itu ketika kuberitahu siapa laki-laki yang bersamaku saat ini.

Dia “menuduhku” perempuan usia lanjut yang sudah demikian terdesaknya untuk menikah sehingga duda pun diembat. Setidaknya kesan itulah yang aku tangkap dari pembicaraan di YM itu.

Aku jadi bertanya-tanya sendiri, emang apa salahnya kalo duda? Sebuah aib yang memalukan atau cacatkah, seseorang yang berstatus duda atau janda cerai?

Buat masyarakat kebanyakan mungkin status duda atau janda cerai sepertinya adalah sebuah cacat sosial sehingga seringkali dipandang rendah atau kasihan.

Aku ingat kolega kantorku yang berpacaran dengan seorang duda keren dan mapan, umur 32 tahun dengan satu anak, habis-habisan ditentang keluarganya, hanya karena status si laki-laki itu duda cerai. Tak ada kompromi. Orang tua dan keluarga besarnya sudah harga mati menolak kehadiran laki-laki itu dalam kehidupan anak perempuan semata wayang mereka.

Tapi buatku, status duda dan janda cerai rasanya sah-sah aja. Bukan sebuah kecacatan, aib sosial, penyakit masyarakat atau virus mematikan yang harus dihindari. They’re just human. Setahuku, tak ada orang yang ketika menikah bercita-cita untuk kemudian bercerai, dan menyandang status duda atau janda.

Semua orang tentu ketika menikah bercita-cita untuk bisa beranjak tua bersama pasangannya, membangun keluarga yang berbahagia dan membesarkan anak-anak hingga dewasa dan beranak cucu. Tak ada yang ingin pernikahannya berantakan di tengah jalan. Maunya semua pasangan juga til death do us part.

Hal yang wajib dicek ketika akan berelasi dengan seorang duda ataupun janda cerai menurutku hanya satu hal basic. Apa yang menjadi penyebab mereka bercerai? Tolong dikroscek ke beberapa sumber terpercaya, jangan telan mentah-mentah pengakuan si janda ato duda yang sedang dekat ini begitu saja.

Dia pasti akan cerita yang bagus-bagusnya saja, karena dia ingin mendekati kita bukan. Tak ada salahnya mencari informasi dari sumber lain untuk melengkapi cerita itu. Tentu itupun kalau kita bermaksud serius untuk menikah ya. Kalo cuma iseng ngapain juga, capek kali..

Ketika sudah didapat jawaban yang akurat kebenarannya, keputusan ada di tangan anda, akan terus melanjutkan hubungan ataukah cukup sampai disini. Unsur kehati-hatian tentu saja jangan sampai diabaikan. Siapa tahu emang sumber permasalahan dari perceraian mereka ada di calon pasangan kita ini.

Bila iya, berarti kita harus waspada. Bukan tak mungkin hal yang sama akan terulang kembali pada pernikahannya dengan kita. Namanya kepribadian, habit dan attitude itu kadang sudah mendarah daging, alias sulit untuk diubah. Tinggal kita siap dengan resiko itu apa tidak.

Buatku sendiri, permasalahan kekasihku dengan ibu surinya sudah jelas. Dan rasanya intuisiku mengatakan dia tidak berbohong. Dia hanya laki-laki yang baru saja kembali dari neraka kehidupannya dan ingin melanjutkan langkah menuju babak baru.

Kami berdua memiliki kesamaan, yaitu pernah mengalami fase sebagai manusia yang dikalahkan, dicampakkan, dan terbuang. Batin kami masih terkoyak. Jiwa kami ini belum tertata utuh. Puing-puing hati itu masih berserakan. Tapi setidaknya api untuk mengayuh bahtera kehidupan baru sudah kembali menyala. Raga kami yang rapuh baru saja menemukan sandaran untuk berlabuh.

Meski beberapa teman menyarankan aku untuk tidak bersamanya dulu sebelum statusnya menjadi duda clear, tapi rasanya aku tak ingin meninggalkannya sendirian. Sebuah proses yang berjalan paralel menurutku sah-sah saja, walaupun memang berisiko akan menimbulkan salah pengertian di antara orang-orang di sekeliling kami, yang mengira bahwa akulah si orang ketiga penyebab perceraian mereka.

Tapi aku tak takut dengan resiko itu. Karena aku tahu pasti aku masuk dalam kehidupannya ketika dia sudah memutuskan untuk berhenti dengan pernikahannya.

Walk with me through these stormy days, to see the light at the end of the tunnel” katanya melalui SMS.

Ya, aku ingin menemaninya melalui hari-hari yang berat ini, dengan hati yang tulus. Keluar dari rumah, memulai hidup baru kembali dari awal. Urusan pengadilan, perebutan hak asuh anak, harta gono gini. Melelahkan. Menguras banyak energi.

Rebooting his life again from scratch. It’s not gonna be easy. But I know he’s tough guy. If not he’s not gonna be here with me now.

Only if you are willing to walk by my side, then the rest will no longer matters,” begitu katanya lagi. Ya, aku hanya ingin menggenggam tangannya, melangkah di sisinya, menyediakan bahuku untuknya bersandar, dan lenganku untuk menyangganya.

Kamu tidak sendirian sayang. I’m here for you …

About these ads

30 Responses

  1. Kok mirip ya sama aku, duda (hampir) cerai. he he he…
    Waduh, klo pemikiran semua orang seperti teman mba’ itu, aku bakalan ngga laku nih.
    Semoga semua yang terbaik buat mba’
    Semoga kebahagiaan selalu untuk mba’
    Jangan ragu melangkah.

  2. itulah jeng..janda en duda mungkin buat kita wajar2 aja..tapi kalo buat orang2 tua..masalah besar..

  3. even mistresses have dignities. agree?
    salut buat mbak! semoga hari esok di ujung sana cerah ya, mbak. semoga endingnya ga kayak saya. di mana si lelaki memilih kembali pada si wanita, meskipun dia mencintai saya.
    sakitnya luar biasa.

  4. jadi gimana kisah selanjutnya? udah beres belum masa2 beratnya mbak?
    hebat sekali yah, kebayang ddeh gimana cathastropicnya saat2 itu.
    atantangan apa saja yang mbak hadapi saat itu?

  5. masa lalu apapun penyebab cerainya, mesti dilupakan aja kali ya..melalui proses kita akan tau kepribadian pasangan kita yang pernah cerai itu seperti apa. pastinya gak akan ada orang yang mau gagal untuk kedua kali..just give them a chance.

    dan setiap manusia pernah melakukan kesalahan.

  6. gw mengalami hal yang sama ma mb, n terus terang gw bingung…………………………………banget.satu sisi gw dah sayang ma dia, sisi laen gw gak rela liat anaknya yang tiap minggu minta jalan, minta inilah itulah n duda cwo gw itu gak pernah bisa nolak. n yang bkin gw sebel banget anaknya ini diajari mantan istrinya.

  7. wah mbak, bagus artikelnya… aku juga lagi jalin hubungan sama duda anak2.. dan Alhamdulillah keluarga nggak keberatan karena menurut keluarga, nggak ada salahnya menikah dengan duda. Kita nggak usah pusing2 mikirin pendapat orang lain, mereka pun kalau kita sedang susah juga nggak bantu kita, kalau kita happy malah banyak yang jealous.

    Menikah dengan duda atau single pasti ada sisi negativ dadn positifnya, sekarang tergantung diri kita masing2 untuk bisa hidup bahagia…

    Cheers

    • trus gmn, apakah skrg anda sudah menikah n prkawinan anda lancar ? krn skrg sy jg sdg mnjalin hub dgn duda cerai beranak. anak2nya sdh akrab skali dgn sy. tp sayang kluarga sy tdk mnyetujui hub ini n tdk mberi restu

  8. mirip jg dg saya… 2th saya nunggu tuh cowo smp bnr2 jadi duda. mantannya msh trs pngn blk jd bikin prosesnya agak lm. lega rasanya skrg qta udah 2bl merid. skrg ngadepin anaknya yg agak susah jg, hbs kolokan bgt sih. kbtln tu anak pilih ikut bpknya, otomatis saya yg ngurus

  9. aku jd punya semangat lg stlah baca tulisan mba..
    ak brumur 22 yg tlah mngalami prnikahan by acident. dan skrng khdupan ak dg suamiku nejalan masing2. skrang saya sdang dekat dg duda beranak 1 yg usianya 40. dy duda cerai dan anaknya ikt dg mntan istrinya, aku ragu sm dy, tp yg mmbwt saya kagum krna dy adlah seorang Dr spesialis anak dan kbtulan jg ia adlah dr anku yg skrng brusia 1,6 th.
    smw keadaan finacenya sdh tdk usah dragukan. tlng saran2nya ya…

  10. saat ini saya mengalaminya .. mencintai dan menyayangi seorang duda beranak 1..anaknya di istri..namun,kelak dy akan mengambil anaknya jk istrinya tidak mampu mengasuhnya.permasalahan skrng keluarga ku tidak setuju akan hub ini..dy mencoba meyakini aku..bhw permasalahan dgn mantan istrinya, telah teratasi mrk udh buat perjanjian, tuk tak mengganggu kehidupannya.sedangkan anaknya, berencana akan di masukkan ke pesantren..itu bila dy memiliki uang yg cukup.
    setelah membaca kisah mba..sy ingin tau apa resikonya menikah dengan duda beranak 1?bila anak bersama kita di awal pernikahana? dan usaha apa yg mba lakukan tuk menyakini keluarga?
    keluarga meminta saya putus..wlau mrk kira putus sebenarnya malah kami makin lengket alias pacaran backstreet..salah memang..tp sy belum dpt solusinya mbak tuk yakini keluarga..
    dy selalu bilang akan menyakini keluarga saya setelah amanah keluarga saya, yaitu menyelesaikan kuliah s2. namun, hal ini pun jua ada usaha saya kan mba..yakini keluarga dan layaknya membuat perjanjian bahwa pilihan saya ini dapat membuat saya bahagia dunia – akhirat

    mohon bantuannya mba..by email deh..biar lebih jelas

  11. g setuju sama elo, g duda, bukan berarti jadi laki-laki kasta terrendah, kita sama, yang membedaan hanya status. semua yang dulu dijalankan lalu menghilang bukan karena kami doyan kawin atau selingkuh, tapi banyak faktor, meskipun sudah berkali-kali kita rujuk ternyata prinsip dan ego yang membuat kita bercerai.

  12. Y emg yg bkin ksel kl ank ny kolokan,d ajarn m ibu ny bwt benci m qt.Dksh uang bulanan lbh ttp j mnt ny ky 2porsi m ibuny.Pa lg kl yg nganterinya ibuny.N yg plg bkin gondok,gr2 ankny blm nerima gw,rncna prnikahan jd d undur.Kmrn2 ex dtg krmh gw,kl org bnr mh malu udh cerai sgla brez.Nemuin gw mw mpngaruhi gw n parahny pk magic jg bwt mshn gw m mntn ny.Pdhl jls2 smua org tw prceraian ny kslhn ex

  13. aku saat ini juga mengalaminya mbak.. ingin menikah dengan pasangan yg berstatus duda, beruntungnya dia blm pny anak dan penyebab perceraiannya karena dikhianati istri.. tapi permasalahan yg sama dengan yg dihadapi mbak, pandangan miring orang2sekitar..
    Bahkan kadang aku sendiri sulit untuk meyakinkan diriku bahwa aku akan bahagia.. bagaimana caranya mbak biar bisa tetap yakin bahwa dia adalah yg terbaik buat kita??? thanks…

  14. sesudah baca kasus2nya sepertinya kita mesti punya motto:

    Apapun masa lalu kita, tatap tegak masa depan

  15. aku gdis brusia 19 thun..aq memiliki kekasih seorank duda dan smua trasa menyenankan untk qu..tpi menyedih kn untk k2 orank tua qu..

  16. the problem is… qt blm prnh jd ortu, so sy jg blm bs ngebayangin gmn reaksi kluarga trutama ortu, andai tw bhw ada seorg duda yg brniat menikahi anaknya.
    dari sisi kedewasaan yg ada dlm diri, scra pribadi g bs nyalahin kondisi “duda” tsb, n dr sisi keibuan yg ada dlm diri jg ngrasa kasihan thd anak2nya. tp mang byk hal yg hrs jd prtimbangan. byk dilema yg jd ga jelas utk diklasifikasikan.

    apakah memang nie uda mnjadi sst yg hrs kita jlni, ataukah qt hrs branjak mninggalkannya demi harapan ortu??? ffiiuuhh……

  17. saya juga mengalami hal yang sama,,sakit memikirkan kata2 orang tua yang sangat tidak setuju bahkan adik yang ikut2an benci dia.mmg statusnya belum jelas tapi istrinya sudah menjelaskan bahwa rencana perceraian mereka bukan karena saya tapi karna mreka blum resmi pisah sya tidak brani berkata apa2.sya sudah berkenalan hampir 3 tahun.istrinya sudah pergi dari rumah sejak itu.sya brusaha yakinkan agar rujuk kembali tapi ternyata masalah mereka sudah tdk bisa diselesaikan.meski bimbang namun sya tidak ingin biarkan dya sendiri,niat sya tulus sayang dia dan sya akan tunggu hingga semua masalah mereka slesai hitam di atas putih,meski tidak berarti kami bisa langsung menikah karena masih butuh waktu agar keluarga kami ber2 bisa menerima.

  18. mang berat seeh, tapi dengarkan kata hati dan bermunajat sama Tuhan mungkin bisa memberikan penjelasan & jawaban yg tepat

    semua itu hanyalah status, toh org yg pernah gagal tdk ingin bukan mengalami kegagalan yg sama?!??!

    jika org itu telah memilih kita, bukankah banyak pertmbangan dan hal yg telah dy pikirkan dengan matang
    ?!?!

    percayalah bahwa kita yg menjadi teristimewa dan terindah dalam kehidupannya

  19. wah..kisahnya sama dengan aq mb…klo dpikir2 berat bgt…tp qt hrs menjalaninya dgn ikhlas, life must go on…meskipun qta kdg berebut perhatian dengan anak-anaknya, tp qt harus bersikap dewasa.Tuhan memberikan jalan seperti itu, karena Tuhan cinta dan sayang pada qt.

  20. ternyata aku nga sendirian,
    begitu pengakuan adanya kegagalan yg dialami cowoku disisi kehidupannya sebelumnya terungkap semua berubah..
    sang duda udah ada dari 2 th yang lalu dihidupku, tapi aku selalu maksa dia untuk jgn berterus terang ttg statusnya ke keluarga ku,
    dan sampai hari ini, hari dmn kita ngerayain 2 th hubungan kita, kita sma2 ngeberaniin diri buat ngmg,
    minggu yang kelam, karna satu kalimat yg nga akan aku lupa “Mendingan kamu bunuh mama aja daripada kmu nikah sma duda itu”
    siapa yang nga stress??
    py aku nga nyerah sampe situ, aku yakin do’a punya kekuatan yg nga diduga2, dan ternyata 2 minggu setelah itu restu dari keluargaku aku dapetin..
    Thx God,, Thx Mom..
    Semoga aku dan dia memang ditakdirkan untuk jadi satu dan ngasih kebahagiaan yg dulu sempet aku hancurkan….’
    love u mom……

  21. Kisahnya persis dgn kisahku. Dan keputusanku sm dengan keputusan anda, menemaninya sampai segala sesuatunya selesai.

    Beruntungnya diriku, mamaku memberi support. Beliau sgt berbesar hati dgn pilihanku ini, hanya satu pesannya banyak2 berdoa.

    Doaku teriring utk qt semua yg sedang dalam kondisi serupa. Perjalanan ini tidak berat, namun sy percaya, dengan cinta, komitmen, dan kekuatan dari Yang Kuasa, qt bisa melaluinya. Amin

  22. … aku sangat2 setuju …
    cerita itu sama persis kayak kisahku saat ini … akulah sang duda ..yang dicintai seorang wanita … yang ceritanya sama sperti anda … kik kuk

  23. artikel yg menarik ya, sis.. :)

    aku mau berbagi cerita utk semua gadis yang akan menikah dengan duda (harus benar2 pikir masak-masak & dewasa sekali).

    aku seorang gadis 20-an tahun… aku baru putus sama pacarku yg duda anak 1 , sebut saja A. Beda usia kami agak jauh… A bercerai dengan ex wife (sebut saja J) karena J sudah selingkuh semenjak pacaran (mereka pacaran dari bangku kuliah krg lebih 8-10 tahunan dan menikah krg lebih 3-4 tahun), dan bodohnya… A menikahi J lalu J hamil, dengan alasan untuk melampiaskan balas dendamnya dengan selingkuhi J ( A pikir J akan sangat hancur karena ketika J hamil besar, J akan sangat terpukul mengetahui suaminya selingkuh dengan WIL). Ternyata tidak. Setelah J lahiran,J dengan lapang hati pindah dari rumah mama A ke kost-kostan, (selama menikah A & J tinggal dirumah mama A). Singkat kata, J menemukan pria singel lain (sebut saja Y) & akhirnya J menikah dengan Y.

    Ketika cerai, A sepakat dengan J untuk membesarkan anak itu dirumah A (karena sejak bayi , J masa bodoh dengan bayinya & memilih untuk kost, akhirnya si anak (sebut saja R) diasuh dengan sukarela oleh mamanya A (sebut saja tante B). Soal biaya, mereka bagi fifty-fifty. Seiring waktu, anak itu tumbuh besar (ketika aku pacaran sama A, anak itu berumur 4 tahun). Memang dia ganteng & lucu, dia juga suka sama aku. Aku bisa ajari dia belajar, temani main, dsb. Tapi ketika R bandel, konflik bermunculan dari tante B, karena tante B tidak ingin cucu kesayangannya menangis. Aku ingin didik R dengan tidak manja (kalau dia bandel, aku tegur & jewer kupingnya), tetapi malah salah paham di si tante B yg menganggap aku ringan tangan sama R. Aku sempat diomong dari belakang oleh tante B kalau R dipukul aku & dia benci sama aku.

    Awalnya aku coba utk terima dia apa adanya termasuk anaknya. Aku dan A sempat bertekad utk menikah tahun ini, bahakan sudah DP 30% utk wedding yang seyogianya wedding itu butuh biaya cukup besar, sehingga aku mendorong A untuk menabung (A jarang menabung sehingga tabungannya selalu habis di bank… aku mulai berprasangka J adalah wanita parah…bejad…juga maaf (kasarnya wanita jalang) : sudah tukang keruk uang suami, tukang selingkuh, sekarang menelantarkan anaknya sendiri). Semakin waktu berjalan kok J semakin membuat ribed yah. Biaya uang sekolah & susu semakin menjadi2 (memang yg urus kebutuhan R adalah J, & pengeluaran itu tidak sedikit perbulannya). Belum lagi tante B sering pinjam uang dari A. Masalah keuangan semakin membuat aku khawatir (insecure banget)…sekarang R masih TK aja biaya udah besar, bagaimana nanti ketika R sudah SD, SMP, SMA, kuliah dst…. mengingat A belum mapan, gaji sebulan hanya cukup kadang kurang, tidak pernah berlebih (itupun kami jg jarang membeli apa2 selain makan & biaya hidup karena kami menabung sama2). Aku bingung selama berbulan-bulan… aku cinta sekali sama A, tapi aku juga harus pakai logikaku untuk menentukan kebahagiaanku khan? Singkat kata, daripada pusing berkepanjangan dengan mental yg belum siap utk menikah dengan duda anak 1, aku yang memilih untuk break up. DP wedding & bridal hangus, bathinku juga tertekan & sedih banget.

    Masalahnya disini adalah juga karena aku kecewa dengan A kenapa A gak bs ambil ketegasan utk pola & tempat pengasuhan R. Di satu sisi A ingin mengasuh R dengan aku, tapi A tidak mau tinggal di rumah mamanya (tante B), otomatis seperti sekarang keadaannya A kost. Aku mikir, sekarang aja tante B sangat teramat sayang dengan R, kalau R kita bawa, tante B susah untuk lepas dari R, kemungkinan saya akan tinggal dengan mertua. Di sisi lain, aku ingin R dibawa saja sama J (karena J juga lebih mapan dari A dan juga J sudah membentuk keluarga baru dengan Y, nah apa alasan J tidak mau merawat anak kandungnya sendiri, malahan tetap menaruh anaknya tinggal dirumah tante B ???? berarti kesalahan dia sebagai wanita teramat fatal, bukan ??? ).

    Memang , A sangat menyayangi aku, aku tahu itu & aku percaya sama dia tidak akan menyakiti aku. Aku jadi egois sendiri, kalau J saja tak mau merawat anaknya sendiri, kenapa harus aku yg repot?? belum lagi soal biaya yg A keluarkan… capek pikiran aku harus memperhitungkan gaji A dengan biaya anaknya, sedangkan tanggal menikah makin dekat. Aku tidak mau menikah lalu hidupku tidak terjamin oleh A, karena itu aku memilih untuk mundur & merelakan sebagian uangku utk biaya DP wedding. A juga tidak bisa melepaskan anaknya seperti keinginanku, begitu saja ke tangan J ( J pernah bilang kalau anaknya mau diasuh olehnya & suami barunya, tidak boleh ada hubungan lagi dengan keluarga A, bahkan dengan tante B yang notabene adalah neneknya R).

    Rumit bukan permasalahanku? Bagi para gadis yang ingin menikah dengan duda cerai & beranak, harap pikir beribu-ribu kali deh…dari segi finansial & segi psikologis ketika kamu harus memikirkan biaya untuk anak duda itu, berbagi , merawat anak itu, mengajari anak itu sekolah, menyayanginya seperti anak kandungmu sendiri, hingga berkomunikasi & mungkin menjalin hubungan baik dengan mantan istri sang duda. Dan lebih banyak permasalahan rumit lainnya yang membuat otak jadi kusut. Bagiku, sekarang sudah no hope…aku gak mau ada campur tangan ex wife si duda. Bagiku, anak itu adalah jembatan penghubung antara dia & mex wife-nya. Lebih baik aku akhiri.

    akhirnya aku harus merelakan pria yang sangat mencintai aku & juga aku cintai karena kendala anak kandung & ex wife-nya. Tapi ini jadi pelajaran buatku agar tak gegabah mengambil keputusan.

  24. kenapa semuanya begitu rumit.tentang anak,tentang status sosial yang nantinya tkut dianggap org ke tiga yang akhirnya akn bebuntut panjang,suda dipikir beribu kali tetp tdk mnemukan jln kluar yang tepat untuku dan calon suami dudaku

  25. Hmmm..saya mau nanggapi komentarnya gadis imut di atas..begini mbak ,saya sendiri seorang duda beranak satu dan saya sudah menikah lagi dengan janda beranak satu juga, teman semasa SMP dulu. anak-anak bawaan kami sama-sama laki-laki , anak kandung saya dari pernikahan terdahulu sekarang berusia 5 tahun dan anak kandung istri saya dari pernikahannya terdahulu berusia 5,5tahun. memang berat pernikahan dengan janda atau duda beranak apalagi kalau duda janda itu duda janda cerai, berarti mantan suami atau mantan istri masing-masing masih hidup. kalau untuk mbak saya sarankan menikah dengan yang masih bujangan saja, agar pernikahan yang anda bangun bisa berjalan secara seimbang, karena keseimbangan (sekufu) dalam pernikahan dimata saya adalah sesuatu yang sangat penting untuk terciptanya keluarga yang harmonis.
    Ya , mengenai keberadaan anaklah yang sebenarnya bisa mengganggu ketentraman pernikahan janda atau duda. Karena selama mantan masih hidup, otomatis hubungan dengan mantan itu selalu ada dan anak – anak bawaan inilah yang akan selalu jadi penghubung diantara mereka.
    So, saya secara pribadi mengambil jalan tengah, saya tidak mengikutkan anak kandung saya di tengah rumah tangga saya yang sekarang. Saya menyerahkan pengasuhan anak saya kepada ibu mantan istri saya, dan klu ibu mantan istri saya merasa kerepotan maka saya serahkan kepada ibu saya sendiri. jadi anak saya berada di bawah pengasuhan nenek2nya..sementara untuk biaya kehidupan dia seratus persen di tangan saya sebagai ayah kandungnya. Sementara anak kandung istri saya dari pernikahannya terdahulu ikut dengan kami, di rumah tangga kami yang sekarang, kadang saya dongkol juga, saya harus menanggung biaya hidup anak kandung istri saya dari pernikahan terdahulu , sementara ayah kandung anak itu masih hidup. dan yang lebih dongkol istri saya ini sering kurang merasa sreg kalau saya biayai hidup anak kandung saya. secara penuh. padahal secara agama, seorang anak sangat berhak atas nafkah dari ayah kandungnya. bukan dari ayah tirinya. dari ayah tirinya dia sebenarnya dia gak punya hak apa-apa begitupun sebaliknya. semoga bisa jadi renungan buat kita semua…

  26. Saya sekarang sedang ada masalah, saya berhubungan dengan duda beranak satu (laki2, usia 15 tahun), teman SMP saya,memang usia pacaran kami baru 3 bulanan, tapi keluarga saya menentang, terutama kaka dan adik2 saya, alasan mereka pacar saya ini tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan mereka takut kalo saya yang membiayai hidup mereka mengingat saya seorang karyawati. Ibu saya juga menentang tapi tidak se ekstrim saudara2 saya, ibu memberikan contoh dirinya yang menikah dengan ayah saya duda beranak 3, tapi ayah saya lebih memprioritaskan anak2nya dibanding ibu saya, dulu setiap tanggal muda, amplop gaji tidak akan dibuka oleh ayah saya sebelum anak2nya datang, jadi ibu saya banting tulang untuk menghidupi dirinya.
    Apa yang seharusnya saya lakukan ? saya bingung dan sedih sekali, apa saya harus mundur atau jalan terus, pantaskah apabila saya menanyakan masalah bagaimana cara dia memperlakukan saya ketika kami menikah nanti kepada pacar saya ?

  27. memang sich duda atau janda dapat nilai negativ,so what gt?
    klu duda di tnggal mati perlu dikasihani rasa nya gak aku bisa hidup dngan jagoan kecil ku dngan bahagia…

  28. Aku adalah perempuan yang berusia 17 tahun dan aku masij duduk dibangku SMK kelas 2 .
    Aku mempunyai pacar seorang duda, tapi nyaris nya dia dipaksa bapaknya untuk rujuk karna bapaknya ga tega liat cucuknya tanpa seorang ayah yang ngedidiknya. dan entah kenapa aku tetep mau sama dia. Otomatis aku adallah orang ke 3 yang ada di hidup keluarga kecilnya . rencana aku sama dia aku dan dia nekad ingin kabur setelah aku lulus & kerja :’) Ya Allah begitu banyak cobaan aku rasa sakit yag aku rasain, begitu banyak rintangan untuk aku :’(

    Aku mau minta pendapat dari kakakĀ² disini dong? posisi aku harus bagaimana?

  29. lalu bagaimana ketika mba meminta izin untuk menikah k ortu??? karena jujur,, saya takut terjadi fitnah yang lebih banyak lagi di masyarakat. mungkin orang-orang menganggap saya jadi sering jalan dengan om om belakangan ini, dan yang saya takutkan isu itu sudah masuk k kampus saya saat ini…
    mohon masukannya yang membuat saya lebih yakin lagi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: