kekasih, sahabat, dan guru terbaik

Sabtu malam yang dingin. Hujan mengguyur Jakarta seharian. Meski tak deras, tapi cukup membuat enggan untuk beranjak dari kehangatan selimut.

Sedang apakah kekasihku saat ini? Ah, nggak tahu. Aku hanya bisa mereka-rekanya di kepala. Mungkin sedang makan seafood di resto favorit bersama anak-anak tercintanya dan ibu suri. Mungkin sedang ke bioskop. Atau mungkin dengan ibu suri sedang menghabiskan malam di klub dansa bersama grup penggemar salsa.

Satu hal yang membuatku iri dari ibu suri adalah itu, dia bisa menjadi pasangan dansa yang hebat bagi kekasihku. Sedangkan aku, boro-boro bisa nari, badan kaku kayak paku begini, hahaha …

Kemarin sore akhirnya aku bisa menghabiskan dua jam yang menyenangkan bersamanya. Sebuah spot kesukaan kami menjadi saksi bisu tuntasnya rindu kami yang terpendam berminggu-minggu. Kekasihku hanya mengirim sms singkat saja “Aku dah di TKP”.

TKP adalah istilah kami untuk menyebut tempat “rahasia” kami. Tempat yang tak terlalu luas ini memang tersembunyi dalam arti sebenarnya. Ada nice sofa, and good food, karena aku bisa customize order yang tidak ada di menu. Nyaman dan lengkap dengan hotspot gratis.

Berminggu-minggu tak berjumpa rasanya begitu menyiksaku. Hanya suaranya di telepon sehari tiga kali yang berhasil meredakan rinduku. Betapa ingin aku memeluknya dan merebahkan kepalaku di dadanya. Mendengar degup jantungnya. Menciumi wajahnya dan membelai kepalanya yang bertabur rambut putih.

Dia nampak lelah dan sarat beban pikiran. Tak heran memang, usaha yang dirintisnya sedang berkembang pesat dan kebanjiran proyek. Waktu kami untuk bisa bersama pun menjadi sempit. Jadwal meetingnya sangat padat.

Kalimat pertama yang kuucapkan ketika melihatnya adalah “I hate you, it’s so hard for me to see you honey”.

Dia hanya tertawa saja melihatku yang memukuli lengannya dengan gemas penuh rindu. Gelak tawa pun mengiringi obrolan kami seperti biasanya. How I miss him so much.

Sayang waktu kangen-kangenan nggak bisa lama-lama karena kemudian mitra bisnisnya yang akan meeting dengannya datang. Dan, aku pun dimintanya tetap berada di situ mengikuti perbincangan mereka.

Begitulah cara kekasihku mengajarku berbagai ilmu bisnis, manajemen, teknik lobbying, dan negosiasi. Seperti pernah kuceritakan, dia memang menyiapkanku untuk menjadi leader andal pada saatnya nanti. Bukan sekali ini saja aku diajaknya meeting dengan klien atau mitra bisnisnya. Aku diperkenalkan pada mereka dan kemudian ikut menyimak apa yang sedang dibicarakan.

Dia memang bukan hanya seorang kekasih untukku, tapi juga sahabat, dan guru terbaik. Aku benar-benar mencintainya. Tak terbayangkan hidupku di Jakarta ini tanpa ada dia.

He’s the air that I breath
The sun that shine my days
The rain that shower my thirst
And the star in the sky where I hang my dreams on …

One Response

  1. Nice Story … Keep Writing , ..I watch You Gurl!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: