para comblang itu dan satu cintaku

Sebuah pesan “ajaib” kuterima darinya. Aku katakan “ajaib” karena terdengar janggal. Dia memintaku untuk berkenalan dengan salah satu kolega bisnisnya.

“Direktur bank, ganteng, baek, duda, umurnya 40an, pokoknya top deh,” gitu katanya padaku.

Hey … what the hell was he trying to do with me? Begitu pikirku. Aku heran binti gemes. Kenapa sih kok dia mendadak aneh begini?

Memang bukan sekali ini dia berniat mencomblangi aku dengan seseorang yang dia kenal, dan dirasanya cukup “layak” untukku. Kadang aku terharu dengan upayanya, meski kadang juga sebel.

Aku tau maksudnya baik. Dia ingin aku bisa hidup mapan dengan seseorang dalam sebuah pernikahan yang resmi dan membangun keluarga normal, hal yang tidak bisa dia berikan untukku.

Kalo becandaan sih sering banget, “Nikah sama aku yuk, Neng!” katanya.

Paling aku jawab sambil tertawa berderai, “Yuk yuk yuk … emang berani po?”

Habis itu kita paling ketawa-ketawa aja. Mungkin bukan ketawa lucu, tapi lebih tepatnya, ketawa miris atas tragedi cinta yang kami alami. Fyuh … what a life😉

Tapi kali ini upayanya terdengar cukup serius di telingaku. “Dia oke banget deh, duda ditinggal meninggal bukan cerai, jabatannya direktur, 40an masih muda lah, ganteng plus baek lagi, apalagi?” katanya dengan gigih berusaha mempromosikan kandidatnya.

Aku cuma nyengir aja no comment sambil geleng-geleng kepala.

Bukannya tak ingin menikah dan membangun sebuah keluarga normal seperti orang lain.Tapi rasanya sampai saat ini belum kutemukan seseorang yang bisa membuatku begitu nyaman seperti dia.

Beberapa kali aku mencoba menjalin relasi dengan pria lajang seusiaku, bahkan kuperkenalkan padanya. Tentu aku tanpa menjelaskan bahwa dia adalah kekasih gelapku yang telah memiliki cinta sejatiku.

Dua relasi yang kucoba dengan pria-pria lajang ini pun kandas dalam hitungan bulan. Padahal kekasihku dengan antusias mendukungku untuk segera menikahi salah satu pria-pria muda yang masih lajang ini.

Antusiasme yang absurd karena aku bisa melihat awan di matanya, ketika kuperkenalkan pada pria-pria muda ini. Senyumnya tetap mengembang seperti biasanya, tapi mungkin hatinya hancur.

Matanya tak bisa berdusta, sebagai jendela hati yang sebenarnya. Aku terlalu mengenalnya, dan kutahu dia sedih.

Tak bisa kupungkiri, aku tak merasa perlu segera menikah meski usiaku segera bertambah dalam hitungan hari lagi. Bayangan bahwa aku harus mengakhiri cerita ini dengannya ketika aku menikah, sangatlah berat.

I don’t want to leave him … yet. I love him so much.

Kadang aku punya pikiran gila, aku ingin memiliki anak darinya. I just want to have someone as a part of him, to share my life with.

Sering aku menggodanya dengan berkata, “I wanna have a son with you”.

Dia cuma memandangku dengan pandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, dan menarik kepalaku ke dalam pelukannya …

Tak ada kata lagi yang terucap. Hanya dua jantung dalam degup yang padu. Berusaha menyatukan asa dalam rasa yang sendu.

5 Responses

  1. ooooooh….so sweeeeeetttt…….

  2. “I wanna have a son with you”
    “euh..but honey, what i really want is a daughter”

    hehehe

  3. ohooo..mak nyuss

  4. pain… suffering… death i feel…

    semoga cepat mendapatkan tambatan hati yang masih single bu…

    hehehe

  5. Thiinx:: maafkan mase, mungil …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: