menikah siri, siapa yang rugi

Minggu sore di sebuah kafe di Cikini. Pembicaraan dua orang sahabat yang lama tak berjumpa, perempuan-perempuan lajang di usia 30an. Derai tawa kadang menghiasi perbincangan kami, meski kami sedang mendiskusikan hal-hal serius.

Sahabatku sore itu menelepon dan ngajak ngopi untuk menyampaikan sebuah kabar mengejutkan. Dia menanyakan pendapatku tentang rencananya menikah siri dengan kekasihnya.

Aku memang tau kalo dua tahun terakhir ini dia menjalin kasih dengan seorang pria beristri. Tak banyak yang tahu mengenai hal itu karena ya you know lah, emang gak banyak orang yang bisa terima dengan jenis relasi seperti ini, meskipun teman dekat. Hanya orang-orang tertentu yang cukup berpikiran terbuka dan berteman tanpa judgement di kepala yang bisa dibagiin cerita jenis ini.

Dan aku salah satunya, selain karena memang aku juga salah satu pelaku dalam kisah yang serupa.

Terus terang aku bingung mau menjawab apa atas pertanyaan sahabatku. Mau bilang gak setuju rasanya gak tega. Aku cukup tau perjalanan panjangnya dalam mencari cinta, penuh duri dan luka. Sampai akhirnya dia kelelahan dan berlabuh di pelukan seorang pria beristri yang usianya lebih muda.

Aku tahu dia berhak untuk mendapatkan kebahagiaan yang diinginkan semua manusia dewasa. Tapi bila harus melalui prosedur seperti ini, kok rasanya aku menyayangkan juga. Dia cantik, mapan, karirnya sedang menuju puncak, cerdas tentunya. Meskipun aku bisa paham di usianya yang lebih tua dua tahun dari aku tentunya dorongan untuk settled down dengan seseorang itu begitu kuat. Tapi, haruskah dengan cara seperti ini dia mengakhiri perjuangannya mencari cinta?

Menikah siri itu dilihat dari sisi manapun merugikan perempuan. Tak ada legal formal yang mengatur hak dan kewajiban, apalagi bila sudah memiliki anak. Hal lain adalah bagaimana bila si istri sah mencium pernikahan siri ini, kemudian terjadi chaos yang berujung pada sebuah tindak kekerasan.

Mungkin pikiranku ngelantur terlalu jauh dan telah terkontaminasi acara-acara kriminal di televisi. Tapi jujur aku khawatir hal buruk terjadi pada sahabatku ini.

Meskipun aku juga pelaku dari sebuah kisah gelap, tapi melakukan pernikahan siri rasanya jauh dari pikiranku. Relasi yang bebas tapi mengikat secara esensi dan emosional untukku rasanya lebih berarti daripada sekedar sebuah status. Padahal rasanya bagi sahabatku kemungkinan untuk menikah secara resmi dan hidup ‘normal’ dengan kekasihnya itu cukup besar. Karena pria kekasih sahabatku itu baru menikah selama tiga tahun, belum memiliki anak, dan dua tahun terakhir dalam pernikahannya sudah menjalin kasih dengan sahabatku.

Logikanya lebih mudah untuk lepas dan kemudian menikah resmi dengan sahabatku tentunya. Jauh berbeda dengan kekasihku yang telah menikah sekian lama dengan dua anak yang beranjak remaja, kemungkinan untuk lepas itu sama sekali gelap dan buntu. Dan aku pun memang tidak mengharapkannya.

Akhirnya setelah sekian lama berpikir aku sampaikan juga pendapatku. “Apapun yang lu pikir baik buat idup lu just do it. Gue sebagai temen cuma bisa support lu for any decision you make, for better or worse gue akan selalu ada buat elu,” kalimat itupun meluncur lancar dari mulutku.

“Tapi karena bagaimanapun ini adalah sebuah keputusan besar, tolong dipertimbangin lagi masak-masak. Karena konsekuensi dari keputusan ini tentu akan ngaruh ke banyak hal dan banyak pihak dalam kehidupan lu. Gue paham kelelahan lu dan keinginan lu untuk settled down, tapi apakah ini cara satu-satunya? Mungkinkah lu menunggu sebentar lagi sampai dia bisa lepas dari pernikahannya yang sekarang dan kemudian kalian bisa menikah dengan resmi?” lanjutku.

Sahabatku menjelaskan bahwa bukan soal sabar atau tidak, tapi adalah hal yang hampir tidak mungkin bagi kekasihnya untuk mengakhiri pernikahannya sekarang dan menikahinya dengan resmi.

Aku pun paham. Memang kekasih sahabatku itu adalah pria muda yang cukup ternama di dunia bisnis nasional karena mewarisi bisnis keluarganya. Istri sahnya juga anak orang kaya yang rupanya mitra bisnis keluarganya. Jadi pernikahan bisnis ini tentu saja sangat berisiko bagi kelangsungan bisnis keluarga si laki-laki kalo sampe nekat dia menceraikan si istri untuk kemudian menikahi sahabatku.

Complicated. Saat inipun si istri benar-benar melakukan pengawasan super ketat atas gerak suaminya, karena rupanya pernah ada insiden kecil dimana si istri mencium ketidaksetiaan suaminya. Tapi meskipun begitu kisah ini hanya rehat sejenak sampai suasana reda dan kemudian berlanjut lagi dengan modus yang lebih aman dan rapi. Makin ketat pengawasan rupanya makin menantang bagi dua manusia dewasa yang terpikat oleh jerat cinta ini. Makin menciptakan ide-ide kreatif untuk bisa bersama di sela-sela jadwal yang ketat dan pengawasan melekat.

Aku sudah menyerahkan keputusan ke tangan sahabatku itu. Toh yang akan menjalani suka duka nya pun dia. Sebagai sahabat aku hanya bisa mendukung apapun keputusan yang kelak diambilnya. Aku percaya sebagai manusia dewasa dia cukup tahu konsekuensi dari keputusannya itu. Good luck my friend, anyhting the best for you😉

14 Responses

  1. Podium….
    Bilangin nanti yg rugi si anak.

  2. pernikahan bisnis ? wah..saya pikir cuman ada jaman dahulu kala…wuee e e eeee…

  3. “Jadi pernikahan bisnis ini tentu saja sangat berisiko bagi kelangsungan bisnis keluarga si laki-laki kalo sampe nekat dia menceraikan si istri untuk kemudian menikahi sahabatku”,
    yang jelas bukan laki laki ini, ato si istri, yg rugi bukan?..what a life🙂

  4. kita memang bangsa yang paling pinter ilmu matematika, apalagi kalau soal menambah atau mengurang paling jago……………
    tapi kalau soal membagi …….. nanti dulu …………..’

    wahai para wanita …………. pelajarilah ilmu membagi ………….
    apalagi membagi cinta …………………….

  5. menikah siri?belum pernah memikirkannya sampai sekarang..tapi salah satu temenku pun ada yang sedang dalam kebimbangan itu, dan ya saranku *mungkin klise* itu hidup dia dan dia pasti tau apa yang terbaik..

  6. ketika cinta itu datang
    dan cinta itu terlarang

  7. Mohon izin kisah ini kami kutip link di situs kami http://www.halohalo.co.id di bagian IT’S ME. Ini semacam portal yang akan membawa link pengunjung ke halaman blog atau ke sini. Terima kasih

  8. kadang perempuan melakukan hal-hal bodoh. merasa harus melakukan sesuatu seperti kata hati padahal itu hanya sebuah emosi sesaat. hati tak pernah membiarkan kita dalam kesakitan. coba bertanya pada lubuk hati yang terdalam. bersihkan diri dari hasrat. biarkan hanya hati yang bicara.

  9. mmm menikah siri..mungkin itu spt makan buah simalakama.. tapi ak melakukannya tanpa merasa bimbang atau ragu..
    ya, pernikahan siri aku jalanin tp dengan syarat ada pernikahan KUA dlm waktu 6 bulan kedepan..
    pernikahan siri akan menjadi baik asalkan ada niat baik dr kedua belah pihak..
    daripada berzina.. lebih baik nikah siri.. dan nikah siri itu bukan dlm hitungan tahun, tapi ada jangka waktu maksimal 6 bulan aja..
    skrg ak lebih nyaman dengan adanya ikatan pernikahan siri, daripada hubungan PACARAN…

  10. nikah siri ogah ye….

  11. Hmm..saya juga sedang bingung,punya kekasih..tapi sudah beranak istri.Walaupun pure ini bukan semata karena nafsu dan embel-embel lainnya,tapi keyakinan kami..kami saling mencintai.I dont know what to do,i wish i could share with someone who already experienced this thing.Any one?

  12. hal yang sama terjadi pula padaku……
    selama aku berpacaran dengan lelaki yang sebaya dengan ku, dan yang paling tua selisih 8 thn dari umurku..i feel not comfort dan ga awet….dan selama itu pula aku bisa menjaga keperawanan ku dan kesucian tubuh ku……aku merasa tidak mendapatkan apa2 dari mereka, mungkin krn mereka tidak bisa mengimbangi prinsip dan cara berfikir ku, sampai akhirnya aku bertemu dengan seorang pria beristri dengan 3 orang anak yg sudah remaja….semua yang kuinginkan ada padanya…
    kelembutan hatinya,cara dia memandangku penuh kasih sayang, aku tidak melihat nafsu yang menggebu dalam dirinya mmeskipun sebenarnya itu pasti ada, aku juga mendapatkan materi dari nya….
    singkat cerita di usia ku yang 24th,keperawanan ku pun runtuh padanya, lama sudah aku takut kehilangan dirinya,apalagi klu sedang off selama 2 minggu, dan hp nya jarang di aktifkan.
    pernah beberapa kali dia mengungkapkan hasratnya ingin menikahi ku dan memiliki anak dari ku.baik saat bercanda canda,dan saat serius, tp aku selalu mengalihkan pembicaraan itu..
    pikiran ku pun mulai berputar2.. jika aku mengiakan, bgm mungkin bs menikah resmi, aku juga ingin hidup normal seperti orang lain, bagaimana bisa mendapat restu dari gereja dan keluarga..pasti keluarga ku akan sangat malu sekali, bisa2 aku di ludahi dan di coret dari daftar keluarga…(aku tinggal terpisah pulau dari keluargaku dan hidup mandiri di kota yg belum pernah aku singgahi sebelumnya)
    sebenarnya aku juga tidak ingin menjadi orang ketiga dlm keretakan keluarga nya…aku juga masih punya hati sebagai perempuan, bgmn bisa istrinya bisa menerima keputusan suaminya untuk membagi……anaknya, bgmn nanti psikis anak2 nya???
    Tapi apa yang harus aku perbuat, aku juga tidak ingin kehilangan nya dan tidak ingin menjadi sumber keretakan rumah tangganya…..
    hubungan ini sudah terjalin 1 thn, dan tidak ada yang tau, meskipun teman baikku…
    aku mencurahkan isi hati dan problema ku di blog ini, mudah2 melalui ini saya diberi pencerahan dan kembali hidup normal dengan perjalanan cinta yang normal pula..
    buat tmn2 yang berbaik hati, saya minta nasihat2 nya sebelum saya kehilangan kesadaran dan melakukan hal bodoh lagi…
    terimakasih

  13. Hello,
    menarik juga forum ini. well, saya adalah salah seorag istri yang suaminya memiliki kekasih gelap. and one thing suami saya tidak berusaha menyembunyikan hubungannya, dan malah mempertemukan kami. kekasihnya anak yang baik, we can be friend. dan masih perawan ketika bersama suamiku, masih muda berumur 21 th dari keluarga broken home. bahkan suami saya menjadikan saya sebagai tempat curhat mengenai hubungannya dengan kekasihnya.. kejem memang.. bahkan dia mengatakan mungkin akan menikahi kekasihnya itu sebagai istri kedua suatu hari ini.. setiap hari walaupun dia ada di rumah, pikirannya melayang ke kekasihnya… kekasihnya itu awalnya tidak tahu bahwa suami saya sudah beristri… tapi sekarang udah tahu, kok ya gak dijauhin yach?

    just curious aja.. gimana sih rasanya jadi kekasih seseorang yg sudah beristri? apakah nyaman, happy, bahagia, dan cukup puas hanya dengan menjadi kekasih?

    • *me2 : mau tau rasanya ?

      seperti mencintai air…, yang tidak mungkin bisa di genggam…

      seperti berlomba dengan kerelaan untuk menerima bahwa dia akan hilang seketika…

      tidak ada perasaan happy, bahagia ato apapun..
      selalu hanya sisakan perih…

      dan nyaman saat dia ada…

      dan yang aku sebut sebagai “kekasih” mungkin hanya ingin menuntaskan hasratnya saja…

      cinta memang terlalu buta…, hingga tak bisa membedakan antara rasa sakit dan dicintai…

      finally…., rasanya ga enak banget mba…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: