what a lovely friday

Jumat siang di pojokan kafe biasanya. Aku dan kekasihku memanfaatkan jeda makan siang hari Jumat yang lebih panjang dibanding hari lainnya. Dia menelponku pagi seperti biasa dalam perjalanannya menuju kantor, tapi kali ini dengan embel-embel undangan makan siang. Ah senangnya..

Berangkat kantor dengan senyum mengembang dan wajah ceria. Sampai meja, aku menata jadwalku sedemikian rupa, sehingga pukul 11 sudah bisa meninggalkan kantor menuju ke lokasi. Semangat 45 menghiasi ritme pekerjaanku, sehingga berbagai tugas yang menumpuk bisa tuntas dalam sekejap, dengan ide-ide yang mengalir lancar.

Ternyata efek sebuah telpon plus undangan makan siang begini dahsyat. Bisa cepet dapet promosi lagi nih, kalo bisa gini tiap hari, wekekekek …😉

Tepat jam 11 aku pun segera meluncur menuju kafe itu. Aku memilih naik taksi daripada bawa mobil sendiri, muter-muter nyari tempat parkir itu makan waktu. Padahal aku tak ingin membuang waktu barang sedetik pun dari “jatah” waktuku bersamanya yang sangat berharga itu.

Dia memang biasanya menggunakan taksi dengan alasan yang berbeda tentunya. Hanya untuk menghindari mobilnya dikenali saja.

Turun dari taksi yang berhenti di lobi,aku memasuki gedung itu dengan setengah berlari. Bergegas menuju pojokan yang tempatnya memang ngumpet itu.

Tiba di sana kulihat dia sudah duduk di sudut favorit. Tersenyum menyambutku yang menghampirinya dengan sedikit terengah habis setengah lari. Kutatap matanya, ingin sekali kukecup bibirnya dan kusentuh rambutnya yang bertabur rambut putih itu.

Dia hanya menatapku dengan hasrat yang sama,tapi matanya mengatakan, awas ya kamu jangan nekat di sini, banyak orang tuh. Aku pun paham, hanya tertawa sambil duduk di kursi persis di hadapannya.

Kerinduan selama dua minggu terpendam pasca episode Ubud itu, kami tumpahkan di sini. Kakiku dibawah meja pun bergerilya.

Aku memang suka jail. Punya kebiasaan yang bikin dia suka jengah.Salah satunya kalo lagi duduk di kafe dalam posisi hadap-hadapan begini.

Biasanya kulepaskan kakiku dari high heel yang membungkusnya, lalu jari-jari kakiku menyelusup ke bagian bawah celananya. Merayap ke balik celana, narik-narik kaus kakinya turun lalu mengelus-elus kakinya yang tidak terbungkus kaus kaki.

Biasanya dia kegelian yang gimana gitu, seneng tapi bete karena kemudian gak bisa ngapa-ngapain. Biasanya dia cuma melotot memintaku untuk menghentikan keisenganku. Kadang kuturuti, tapi seringkali sih nggak, hehehe..

Kejailanku yang lain, misalnya kalo kita di mobil. Aku tuh paling suka menciumi lengan kirinya yang memegang tongkat persneling. Kadang aku merangsek ke sisinya, sambil membelai rambutnya, bibirku menggerayangi telinganya. Lidahku paling suka kupakai untuk menggelitik bagian belakang telinganya.

Terus turun ke lehernya, pipi kirinya. Geli-geli gimanaaaaa … gitu kan rasanya. Pastinya bikin bete, karena cuma bisa segitu. Kalo dah gak tahan dia biasanya dia cuma meringkus tanganku dan diremasnya kenceng-kenceng dengan gemas. Kamu tuh ya ampuuuun … Dia tak melanjutkan kata-katanya, aku hanya menyaksikan tatapan matanya yang tak berdaya. Hehehe..

Tapi sebetulnya, kalo lagi kumat dia bisa lebih gila dari aku. Kadang ulahnya mengagetkan, dan tak terduga. Pernah ketika kami habis makan siang dan kembali ke kantor dengan satu taksi.

Dia tanpa ba bi bu, mencium bibirku dengan spontan. Cup cup !

Aku hanya melongo kaget, tak siap dengan serangan mendadak itu. Selain karena aku merasa risih ciuman diliatin supir taksi yang mengintip dari kaca spion. Aduh … malu deh. Apa yang di kepalanya ya melihat ulah kami itu?

Kali lain waktu kami habis makan siang juga di tempat tak biasa, sehingga dia bawa mobil. Lagi ngobrol, tiba-tiba dia menciumku dengan penuh hasrat, dan kami pun french kiss di mobil yang sedang melaju di keramaian jalanan di seputar Blok M, siang bolong dengan kaca mobil yang gak gelap-gelap amat.

Gilanya, dia tetap bisa menyetir dengan benar meskipun bibir dan lidahnya sibuk beradu dengan milikku.

He’s totally damn nuts!

Tapi, siang itu, makan berlangsung sangat menyenangkan. Hingga piring kosong, benar-benar hanya kami berdua. Gak ada meeting dengan rekan bisnisnya yang bergabung, atau teman yang lain yang menyusul. Kadang untuk kamuflase, dia sering mengajak teman-teman kantornya untuk bergabung dengan kami.

Usai dua jam yang santai dan penuh tawa itu, kami pun berpisah dengan taksi yang terpisah untuk kembali ke kantor. What a lovely Friday!

4 Responses

  1. kenakalan yg menyenangkan…….

  2. well..nakal2 gimana kan?huahuahua..sip..sip..

  3. Usul aja, nicknamenya jangan admin gituh.. Kesannya yang nulis mesin. (atau orang yang mengurusi mesin).

  4. jadi pengenn .. :P~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: