Tahun Baru Kekasih Baru

Bangun pagi dengan satu hasrat, menulis. Udah lama banget rasanya gak menulis disini.Maafkan, bila membuat anda bertanya-tanya mengapa aku membisu atau mungkin menduga aku memutuskan untuk hiatus. Nggak kok, aku nggak kemana-mana. Aku hanya sedang terlalu excited untuk menulis.

Begitu banyak hal yang terjadi sejak peristiwa belanja buku yang heboh itu, dan makan malam yang membuatku gak karuan itu. Jujur aja setelah itu aku tidak terlalu sehat, malam itu saking nervousnya, aku merokok terlalu banyak. Aku gak tau kenapa bisa segrogi itu berdekatan dengan dia, mungkin karena sebuah rasa aneh sudah meruak ke permukaan dan mewarnai wajah dan menyaputkan sinar di mataku. Untuk menutupi kejanggalan itu, aku merokok lebih dari tujuh batang dalam dua jam itu. Anda yang perokok berat mungkin tidak masalah, tapi aku yang pada dasarnya hanya social smoker, tentu saja itu adalah bunuh diri.

Hampir seminggu setelah itu aku sesak nafas, dadaku sakit, dan jantungku gak karu-karuan. Pernah sampai jatuh tiba-tiba karena mendadak kepalaku berat dan kehilangan keseimbangan. Tanganku tak bisa memegang barang dengan baik karena terlalu shaking, dan telapak tanganku berkeringat terus. Jantung ku memang ada sedikit masalah, tapi sampai sekarang aku tak mau memeriksanya dengan tuntas, meskipun dokter pribadiku sudah menyarankannya. Aku terlalu takut untuk mengetahui hasil diagnosanya nanti.

Tapi sejak itu pula, hari-hari ku di kantor tak lagi sama. Aku mulai merindukannya bila dia tak hadir ke ruanganku, aku mulai bertanya-tanya apa yang sedang dikerjakannya. Menantikan ajakan makan siangnya. Hmm..sudah lama sekali rasanya aku tak mengalami seperti ini lagi. Aku jatuh cinta, ah senangnya…setelah hampir delapan tahun.

Mengalir begitu saja, deras dan menghentak. Topeng-topeng yang kami kenakan satu demi satu pun terlepas. Acara makan siang menjadi agenda rutin kami untuk saling melepaskan topeng-topeng dari wajah dan hati kami itu. Pengakuan demi pengakuan pun mengemuka. Rasa yang terpendam, gejolak yang terkubur, dan hasrat yang terkekang, memasuki fase pembebasan. Kami melepaskannya dengan sadar.

Aku perempuan yang mungkin bukan tipe kebanyakan perempuan Indonesia, meskipun aku perempuan Jawa yang dikenal dengan stereotype, pemalu, santun, dan tabu untuk mengungkapkan perasaan. Aku memang Jawa murtad. Tak segan aku menyatakan pemikiran dan perasaanku, tak sungkan aku mengatakan apa yang ku mau selama aku tahu bahwa itu bukan hal yang salah.

Begitu pula yang aku lakukan pada kolegaku itu. Ketika resah sudah semakin meraja. Kerinduan akan sosoknya semakin mencekamku. Aku pun memulainya dengan menuliskan posting sebelum ini. Dan dia membacanya. Dinding pembatas itupun runtuh. Dua jiwa pun melebur dalam kejujuran rasa.

“You are the woman that I want to be with. No question about that,” begitu katanya. Tapi dengan statusnya yang belum clear memang selama ini dia tak berani menyatakan perasaannya padaku. Dia cukup tahu diri, dan tak berani melangkah lebih jauh. Meskipun rupanya dia selalu mengamatiku.

Lega tentunya, tahun baru ini ternyata membawa berkah seorang kekasih baru untukku. Hari-hari dengan warna dan rasa baru. Ternyata selama ini aku salah. Kukira aku tak akan bisa mencintai orang lain lagi. Kusangka hatiku sudah beku. Dan ternyata tidak. Aku jatuh cinta lagi, dan semoga kali ini berakhir bahagia

2 Responses

  1. Amin … Bunda doakan semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dengannya ….
    Selamat ya untuk kekasih barunya ….🙂

  2. well..lama ga bermain kesini ternyata pelangi yang dicari sudah ditemukan ya?Selamat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: