Sms Valentine.

My Luv, di hari kasih sayang ini aku gelisah. Untuk orang lain hari ini mungkin sama seperti hari-hari lainnya. Untuk aku hari ini, tahun ini, punya makna yang lain. Aku punya seseorang yang mencintai aku, apa adanya. Menyayangi aku dengan sepenuh hatinya. Memberi dengan tulus. Dan aku menyambutnya.

Tapi aku tersiksa karena belum dapat menyatakannya secara terbuka. Bahkan untuk sekedar memegang tangan dan mengecup bibirnya aku terpaksa harus bersabar menahannya sampai waktunya tiba. Pada banyak saat aku hanya dapat menatap matanya yang penuh dengan cinta itu.

Semoga hari itu segera tiba. Saat aku dapat menarikmu ke dalam pelukanku, menatapmu, mengecup bibirmu, dan di depan orang-orang banyak itu membisikkan di telingamu : betapa aku sangat mencintaimu.

Selamat hari kasih sayang darling. Semoga cinta tidak berhenti pada hari ini. Yours, as always.

Begitulah sms panjangnya di pagi hari ini. Aku tak mengira dia bisa menjadi seromantis itu mengungkapkan perasaannya. Mataku berkaca-kaca membacanya. Sejenak kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Terdiam, meresapi setiap kalimat yang ditulisnya. Menyesap habis aroma cinta yang menguar di udara sekelilingku.Terasa hangat di hati. Indahnya mengetahui diri ini dicintai oleh seseorang begitu dalam. Tulus, apa adanya.

Aku mengerti siksaan yang dirasakannya, karena memang aku juga merasakan siksaan yang sama. Berperang melawan perasaan yang mendera hati. Bertarung untuk mengendalikan diri di hadapan orang banyak. Bertahan untuk tidak menghambur ke pelukannya. Mengecup bibirnya. Mencium matanya. Mengusap rambutnya. Mengelap keringat di keningnya. Merengkuh pinggangnya. Dan membisikkan kata cinta di telinganya.

Aku tahu dia sedang berusaha mewujudkan impian kami. Berjuang untuk segera menuntaskan permasalahan di masa lalu, dan bergerak maju menggapai masa depan. Tak mudah dan penuh luka. Tapi dia tak sendirian. Dia tahu aku akan ada disampingnya. Menemani masa-masa sulitnya melewati badai. Menggenggam tangannya untuk berbagi kekuatan. Menyediakan bahuku untuknya bersandar. Dan menyirami jiwanya dengan kasih.

Kapankah saat itu akan tiba ? Ketika kami bisa saling menggenggam tangan dan tersenyum pada semua orang, menyatakan kebersamaan kami dengan terbuka. Mengatakan pada dunia bahwa kami saling mencintai dan ingin beranjak tua bersama. Tuhan mengatakan, semua indah pada waktunya. Tapi kapankah ? Tiga bulan ? Enam bulan ? Setahun, dua tahun ? Tak ada yang tahu, kami manusia hanya berusaha untuk yang terbaik. Dan berdoa untuk memohon perkenan-Nya, untuk mempersatukan kami dalam ikatan-Nya.

One Response

  1. Lom ada posting baru lagi ya bu… ;))
    salute! keep on writing n’ sharing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: