Tentang Perpisahan..

Jakarta hujan seharian. Untung gak banjir kayak waktu Jumat gila itu. Tapi entah kenapa cuaca yang gloomy dan langit yang terus-menerus menangis, membawa suasana yang mendung dan berkabut juga di hatiku. Mata ini hanya ingin menerawang, berkaca-kaca, dan mulutku lebih suka diam dan terkunci. Tak ada senyum, tak ada spark yang memancar dari gerak tubuhku.

Terima kasih untuk segala atensi, baik yang meninggalkan komen maupun yang silent reader. Maafkan bila belakangan aku lelet untuk menulis posting-posting baru. Bukannya tak banyak cerita, tapi aku bingung akan mulai bercerita dari mana. Hidupku bukan saja berjalan belakangan ini, tapi berlari sangat kencang. Begitu banyak yang terjadi dalam waktu yang singkat. Aku mungkin mengalami euphoria yang udah lama sekali tak kurasakan. Too much to chew..arrgh..

Kekasihku semakin mendekati titik akhir dari pernikahan yang telah diarunginya selama 10 tahun itu. Aku senang tentunya, karena saat untuk kami bisa declare kepada orang-orang di sekeliling tentang hubungan kami, semakin dekat. Kami tak harus ngumpet-ngumpet lagi janjian di tempat parkir untuk pergi makan siang, atau pulang kantor bareng. Aku bisa memegang tangannya di tempat umum. Menggelendot di bahunya bila kami nonton bioskop.Bahkan bisa datang berbarengan ke lobby hotel bila kami check in, tanpa harus pegang kunci sendiri-sendiri dan ketemu di kamar.

Aku tak sabar untuk mengenakan cincin emas putih dengan namanya terukir di dalamnya. Dan memamerkannya pada dunia, bahwa aku bukan seorang kekasih gelap yang harus disembunyikan lagi. Aku seorang istri yang sah. Seseorang yang akan berjalan di sisinya dan menggenggam erat tangannya. Pada saat susah dan senang, sehat dan sakit, kaya dan miskin, hingga kami merayakan ulang tahun emas pernikahan kami.

Tapi entah kenapa, ada suara di dalam hati yang membuatku merasa sedih. I feel so sad for him. Aku sangat paham ini bukan hal yang mudah untuknya, dan tentunya untuk siapapun yang menghadapi perceraian. Siapapun yang menikah tentu tak pernah berharap untuk bercerai. Semua ingin bersama hingga akhir hayat. Tapi ketika kenyataan yang dihadapi berbeda dengan harapan ? Semua mengatakan bahwa inilah takdir. Dibungkus dengan pernyataan, bahwa Tuhan punya skenario yang terbaik untuk kita. Apapun kalimat penghiburan yang diucapkan, perceraian tetaplah menorehkan luka yang dalam. Luka batin yang menganga dan berdarah. Hanya waktu yang akan bisa menyembuhkan.

Aku manusia yang total ketika mencinta. Hanya kebahagiaan yang aku inginkan untuk orang yang aku cintai, meski pada banyak saat kadang aku harus merelakan kebahagiaanku sendiri. Kali ini pun begitu, aku begitu mencintainya. Hatiku teriris perih melihat matanya yang berkaca-kaca ketika berkisah tentang anak-anaknya. Ketika anak laki-lakinya yang baru berusia 3 tahun bilang, ingin ikut papa aja kerja, karena begitu seringnya dia ditinggal. Dan kadang di pagi hari terbangun dan mencari sosok papanya yang biasa tidur bersamanya. Atau tentang anak perempuannya yang protes ketika papanya hanya pulang di akhir pekan menjenguk mereka.

Aku tak ingin melihatnya berpisah dengan anak-anaknya. I want him to be happy with the kids, grow them up, and always be with them. Seandainya dia harus membatalkan perpisahan dengan mama nya anak-anak pun aku rela.. Meskipun aku sangat mencintai laki-laki istimewa ini. Aku hanya ingin dia bahagia, dan pusat kebahagiaannya adalah anak-anaknya.

Aku memberinya dua buku tentang perceraian. Divorce for Dummies dan The Truth about Divorce and Children, yang menurutnya sangat membantu untuk menambah wawasan di kepalanya. Ada banyak insight yang katanya membuka mata dia tentang bagaimana menghandle anak-anak sebagai akibat dari perceraian, yang didapatnya dari buku itu. He’s so thankful for the books. Aku pun senang bisa berkontribusi meski hanya dengan membelikannya buku. Seandainya ada hal lain yang aku bisa kulakukan untuk membuatnya bahagia tentu akan kulakukan dengan senang hati.

Perasaanku campur aduk rasanya melihat detik-detik perpisahan itu. Tuhan, seandainya ada yang bisa aku lakukan untuknya dan anak-anak yang tak pernah minta dilahirkan itu..

4 Responses

  1. Mba saya salut sama kamu … kamu punya hati seluas samudera, kamu tahu bagaimana caranya mencintai, saya aja belum tentu bisa sekuat mba … itulah sebenarnya hakikat mencintai…kebahagiaan kita adalah kebahagiaan pasangan kita…kesedihannya adalah kesedihan kita dan deritanya adalah derita kita ….kita belum bisa bisa dibilang mencintai bila kita masih bersikap egois dan mementingkan diri sendiri … Mba, thanks buat postingannya, saya banya belajar bagaimana seharusnya mencintai … semoga Mba bisa menemukan kebahagiaan dengan orang yang mba cintai itu ya … dan mba bisa memiliki dia seutuhnya suatu hari nanti…. I’ll Pray For You … Amin …

  2. mbak, saya terharu baca tulisan ini. salut banget sama mbak. di atas mbak nulis kalo mbak adalah manusia yang total ketika mencinta, dan menurut saya kalimat itu bukan semata-mata adalah pujian untuk menyenangkan hati diri mbak sendiri. dengan pernah terpikirnya mbak untuk merelakan sang kekasih rujuk dengan mama nya anak-anak, saya tau benar mbak memang total ketika mencinta. begitu total, begitu ikhlas dalam membuat sang kekasih bahagia, dengan cara apapun, termasuk mendukung segala keputusan yang mungkin ia pilih meskipun mbak (mungkin) akan terpukul dengan keputusan itu.

    semoga mbak segera mendapatkan pendamping yang terbaik untuk mbak. cheers =)

  3. Hi say, salam kenal🙂
    Thats life’
    Kita dalam keadaan yang sama terluka karena Cinta,
    Kita tidak pernah tau akan masa depan, aku bisa merasakan apa yang sedang kamu alami saat ini … Kadang Cinta memang misteri, mengapa harus datang pada saat terlambat & untuk menggapainya harus mengorbankan pihak lain .
    Namun akhirnya saya mengambil langkah untuk melepaskan nya, karena menurut saya Cinta sesungguhnya adalah apabila kita bersedia dengan ikhlas untuk memberikan dan membiarkan kebahagiaan orang yang kita sayangi, meskipun itu sangat teramat menyakitkan diri kita sendiri.
    Pada saat ini, tidak ada hal yang dapat kita lakukan, selain yakin dan percaya segala suatunya akan berakhir sesuai dengan rencana Nya. 😀 Yakinlah.. !

  4. aaahhh..cinta..selamat mengalami pengorbanan demi pengorbanan untuk cinta kamu..it’s worthfull..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: