Aku bukan maling lho..

Sudah long weekend lagi. Bangsa ini terlalu banyak libur menurutku. Benar-benar gak produktif, gak heran kalo Sofyan Wanandi ngomel-ngomel. Banyak libur bikin bisnis melambat, berbagai urusan tertunda, karena kantor-kantor pada tutup. Kenapa gak yang libur hanya umat yang merayakan saja ? Hari libur agama apapun lho, bukan hanya karena libur hari ini umat beragama minoritas. Jadi perekonomian di negeri ini tidak harus berhenti total, karena semua “dipaksa” untuk ikutan libur. Meskipun ya, untuk sektor-sektor tertentu, seperti hiburan dan pariwisata mendapat keuntungan dari libur panjang yang berderet-deret sepanjang tahun 2008 ini. Ya it’s business, selalu ada yang menangguk untung dibalik kerugian banyak pihak.

Libur panjang kali ini aku lebih betah di rumah aja. Males kemana-mana, meskipun ada Java Jazz, tapi entahlah lagi pengen sendirian, menulis, baca setumpuk buku yang belum terbaca, bersih-bersih rumah, instead of hang out di keramaian yang hingar bingar.

Kemarin pulang kantor, kami pergi makan es krim di Cikini. Bosen juga ngopi mulu, sekali-kali pengen mengenang masa kecil, waktu es krim ini jadi impian kami. Maklum waktu itu es krim ini rasanya mahal banget, sehingga jadi sebuah kemewahan hanya untuk special moment, ulang tahun atau kenaikan kelas. Jadilah kemarin makan es krim cokelat scoop dan sundae itu. Bercerita tentang masa remaja dan kanak-kanak di tempat yang sedang di renovasi itu. Lucu, dengan mata berbinar-binar berkisah tentang pacar pertama, dan teman-teman masa sekolah. Setelah seharian kami berjibaku dengan pekerjaan yang dipadatkan karena akan libur panjang. It was lovely.

Rasanya kami tak bisa menahan lebih lama lagi untuk menutupi kebersamaan kami dari rekan-rekan sekantor. Beberapa teman sudah mulai mengendus ada yang istimewa diantara kami berdua. Seorang teman memergoki kami pulang kantor barengan. Meski rasanya kami sudah keluar sendiri-sendiri dan bertemu di parkiran, tapi ternyata bersamaan dengan si teman itu juga berada di parkiran dan melihatku masuk ke mobil kekasihku. Rekan yang lain pun pernah melihat kami berdua di mobil keluar kantor untuk makan siang.

Beberapa teman juga mulai mengamati frekuensi kekasihku yang rasanya lebih sering datang ke ruanganku untuk numpang merokok. Atau tiba-tiba dia datang ke ruanganku dengan bungkusan Burger King pesananku. Mereka memandang dengan iri karena hanya aku yang mendapat kiriman itu. Hmm..they’re not idiots, they can read between the line.

Salah seorang teman yang akhirnya “terpaksa” harus tahu, memang sudah kuceritakan mengenai apa yang terjadi. Dia berhak akan penjelasan, karena dia terkaget-kaget menemukan aku dan dia di acara makan malam ulang tahun sahabatku yang kebetulan adalah tantenya. Jadi ketika aku bertemu dia di kantor keesokan harinya, aku pun “terpaksa” harus menjelaskan. Satu-satunya orang yang tahu di kantor dari mulutku sendiri.

Kemarin teman yang sudah tau itu bilang sama aku, untuk membuka diri saja. ” Kalian kok underground gitu sih pacarannya ?” katanya heran. Ya, sejujurnya aku juga tak nyaman dengan kondisi seperti ini. Seperti maling yang takut ketangkep aja rasanya. Harus ngumpet-ngumpet, hati-hati, dan menjaga diri untuk bisa bersikap senormal mungkin. Tersiksa rasanya. Aku bukan perempuan hina,yang rasanya tak layak untuk diperlakukan dengan seperti ini. Even mistress has dignity, aku ingat komen di salah satu posting ku disini.

Orang takut karena salah. Dan aku tak merasa melakukan kesalahan dalam hal ini. Aku tak mencuri suami siapapun. Dia sudah berada “diluar” pernikahan ketika aku memasuki kehidupan cintanya. Tapi aku tahu, dia berkeras untuk menyembunyikan relasi istimewa kami ini, karena dia ingin menjagaku dari pendapat orang sekitar kami yang tak tahu persoalan. Mereka yang selama ini tahunya bahwa pernikahan kekasihku baik-baik saja, tentu akan mengira akulah penyebab perceraian dia. Akulah si orang ketiga perusak rumah tangga orang, yang tentu saja akan mendapat stigma negatif. While I know for sure that I didnt do it. Pernikahan itu sudah rusak jauh sebelum aku datang mengetuk hatinya. Tapi orang-orang itu memang tidak tahu, dan lingkungan kerja kami adalah orang-orang yang konservatif dengan orang yang suka bergosip dan nyinyir.

Ini memang hanya menghitung hari, pada saatnya ini akan terbuka juga. Dan aku harus siap dengan heat yang akan menerpa. Tapi dengan sekian luka dan perjalanan panjang jatuh bangun mencari cinta sejati, rasanya satu badai lagi tak akan membuatku mundur barang selangkah. One more pain to gain my love of my life, it just nothing for me. Ya clock is ticking..

One Response

  1. Yup… Badai pasti berlalu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: