Pertarungan pun dimulai

Akhirnya peluit tanda pertandingan di ruang sidang pun ditiup. Bola sebagai tanda dibukanya pertandingan sudah ditendang oleh kekasihku menuju gawang lawan. Aku sebagai penonton sekaligus suporter setia hanya bisa berdiri di pinggir lapangan sambil harap-harap cemas. Berharap agar pertandingan segera usai dengan piala kemenangan di tangan kekasihku.

Semoga tak perlu ada aksi jegal-menjegal dan upaya saling mencederai dalam pertandingan ini. Karena aku tak tega menyaksikan dia kembali terluka dengan tubuh carut marut. Sudahlah..bukannya pertandingan ini hanyalah formalitas. Segera saja mainkan sebagai persyaratan untuk melanjutkan hidup pada babak baru dari masing-masing kubu yang bertarung.

Sebuah situs mengenai perceraian,yang kutemukan di sebuah milis pembaca majalah perempuan, rupanya sangat membantunya dalam menyusun dan melengkapi semua persyaratan yang dibutuhkan. Memberinya gambaran yang gamblang mengenai langkah-langkah yang harus dilaluinya, untuk segera mengantongi surat cerai dari catatan sipil.

Aku hanya bisa berdoa dan memberinya dukungan dengan sepenuh hatiku… Sayang, sabar ya, aku gak kemana-mana kok. Aku tunggu kamu disini, dengan segenap cinta untuk merajut hidup baru bersamamu.

One Response

  1. ah fiksi nih..fiksi…
    cape deh… baca lama2 kok banyak ceritanya yg gak konsisten dan reaktif…
    maksudnya tergantung komen orang.. gak independen …
    basi ah di boohing sama Hoax

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: