Meet The Juniors

Akhir pekan ini sungguh istimewa. Untuk pertama kalinya kekasihku mengajakku berkenalan dengan anak-anaknya. Kebetulan ibu suri sedang berada di luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Kami pun berniat untuk pergi ke Dufan, tapi ternyata Jakarta diguyur hujan deras dan jalanan macet luar biasa untuk ukuran akhir pekan, sehingga kami akhirnya memutuskan untuk ke Sea World saja. Ini pun atas pilihan anak-anak yang sedang exciting mengenal berbagai jenis hewan, terutama ikan. Sea World adalah pilihan yang tepat.

Entah apa yang ada di kepalanya ketika beberapa hari sebelumnya dia melontarkan ide itu kepadaku. Are you ready to meet my kids ? tanyanya. Aku pun tidak memungkiri bahwa rasa nervous cukup kuat menderaku pada awal ide itu dilontarkan. Tapi aku tahu ini hanyalah soal waktu. Soon or later I have to meet them. Dan mungkin sekaranglah saatnya, mumpung ibu suri juga sedang gak di Indonesia.

Meskipun dia sudah berusaha meredakan nervousku dengan mengatakan just be fun, targetnya gak muluk-muluk kok, hanya untuk saling mengenal saja dulu, rasanya aku tetap spanneng. Aku adalah penyuka anak-anak, dan selama ini tak pernah kesulitan dalam hal berinteraksi dengan anak-anak. Aku adalah tante favorit bagi para keponakanku. Tapi rasanya untuk dua anak ini ada sesuatu yang membuatku merasa terbebani, bahwa aku “harus” bisa menancapkan image yang baik at the first time. Aku harus tampil “sempurna”, mendapat penerimaan yang baik, dan segudang harapan yang kutahu aku taruh sendiri ke pundakku. Jadilah rasa nervous itu tak juga hilang.

Hingga saatnya kami bertemu, di perjalanan masih basa basi, aku berusaha mempelajari situasi yang baru kukenal ini. Meskipun sebelumnya aku sudah cukup sering mendengar tentang mereka dari kekasihku, dan melihat foto-foto mereka, tapi tetap saja bertemu secara langsung adalah hal yang berbeda. Perjalanan yang terhadang macet, akhirnya membuat kami harus mampir untuk pipis di sebuah mal. Kuajak si cikal yang berusia 6 tahun itu ke ladies room beserta nany nya. Sedangkan papanya bersama si bungsu menunggu di parkiran. Di perjalanan itulah aku mulai bisa ngobrol, dan kami pun mampir ke minimarket untuk membeli berbagai cemilan.

Si cikal ini sangat lincah dan energik. Penyuka warna pink yang fasih berbahasa Inggris dan sedang belajar bahasa mandarin. Anak kebanggaan papanya yang juga pintar bermain biola dan nilai raportnya baik. Sepertinya mewarisi otak cerdas papanya. Matanya yang sipit dan giginya yang ompong lucu sekali bila tersenyum. Ketika sudah di Sea World lah aku mulai bisa berinteraksi dengan lebih cair. Lebih mudah ngobrol dalam bahasa Inggris dengannya, dengan lincah dia berlari dari satu akuarium ke akuarium lainnya. Mengenali berbagai ikan yang dilihatnya di film atau buku-buku, dan sibuk berceloteh ini itu.

Si bungsu masih 3 tahun, laki-laki, dan pernah menjalani operasi berat waktu baru beberapa hari lahir ke dunia ini. Jadilah harus ditangani dengan ekstra hati-hati. Dia lebih sering bersama nany dan papanya. Terus terang aku tak terlalu berani “memegangnya”, takut salah aja. Biarlah si nany yang sehari-hari bersamanya dan papanya yang lebih tahu. Aku fokus untuk bermain bersama si cikal saja yang seperti bola bekel itu.

Lama-lama rasa nervous itupun mencair dengan sendirinya. Beban yang ada di pundak pun terangkat sudah. Rasanya lebih mudah daripada yang kubayangkan semula, syukurlah. Ya, anak-anak tetaplah anak-anak, dimanapun, dan siapapun orang tuanya. Hanya butuh ketulusan dan kasih sayang untuk “menaklukan” mereka. Minimal untuk step pertama rasanya sudah kulalui dengan baik, setidaknya dari sisiku. Dari pihak mereka aku tak mau terlalu memikirkan, biarlah waktu yang akan menjawabnya, dan segalanya berjalan dengan alamiah tanpa ada tekanan maupun paksaan.

Dan tentu saja untuk tahap pertama ini biarlah mereka mengenalku hanya sebagai tante teman kantornya papa mereka. Apalagi setahuku, papa mereka belum mengatakan mengenai perpisahan ini. Mereka hanya tahu bahwa memang ada perubahan beberapa bulan terakhir ini, papa mereka hanya ada bersama mereka pada saat akhir pekan.

Akupun memang tak pernah berharap akan menjadi ibu mereka. No, I’m just tante yang akan melaksanakan fungsi “acting mom” ketika mereka kelak menghabiskan waktu bersama kami. Aku sudah memagari diriku sendiri untuk tidak masuk ke wilayah ibu suri, terutama soal mendidik dan kebiasaan-kebiasaan yang sudah diatur oleh orang tuanya. Let them be..I just need to know what are their rule, ikut mematuhinya dan tidak harus melanggarnya karena aku tak tahu. Aku hanya tak ingin memicu konflik saja, aku cukup tahu diri kok aku siapa.

Begitulah kisah akhir pekanku kali ini…menegangkan, menyenangkan dan sekaligus melegakan.

One Response

  1. Hi mba … sudah lama gak baca blog mba neh … semakin di baca dan mengikuti perjalanan hidup, saya semakin kagum. Boleh gak menampilkan alamat mba ini di blog pribadi saya, karena saya rasa banyak hal yang bisa kita pelajari di sini.

    Satu hal yang membuat mba istimewa di mata saya adalah mba begitu tulus dan ikhlas menerima keadaan mba dan takdir mba …

    semoga berhasil ya mba dengan perjalanan cintanya…saya doakan mba bisa bersatu dengan kekasih hati mba …

    salam,
    Bundana Ayara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: