I dont know what to say, but I’m here for you

Wajahnya kusut masai ketika mampir ke ruanganku untuk numpang merokok seperti biasanya. Batik merah cerah yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kelelahan dan kegundahan hatinya. Hari ini memang membuatnya lelah secara mental. Hari yang diawali dengan sebuah momen yang tak terlupakan dan menyakitkan.

Pagi tadi surat perjanjian yang menyepakati pembagian harta gono gini dan pembagian hak asuh anak, akhirnya ditandatangani oleh kekasihku dan ibu suri. Proses panjang yang menguras energi dan emosi. Bolak-balik untuk merevisi banyak hal, hingga akhirnya dicapai sebuah kesepakatan oleh kedua belah pihak mengenai hal yang krusial dari sebuah perceraian.

“Tadi mata ibu suri berkaca-kaca pas nandatangani surat bermeterai itu,” katanya padaku barusan. Ya, pastilah. Siapapun yang harus mengalaminya pasti melakukannya dengan hati hancur. Meskipun itu adalah hasil dari sebuah pilihan yang telah diambilnya dengan sadar. Bagaimanapun ada sebuah sejarah kebersamaan yang cukup panjang diantara mereka, dengan dua orang anak sebagai bukti bahwa mereka pernah saling mencintai.

Aku pun yang mendengarnya ikut sedih. Sesak rasanya membayangkan aku berada dalam situasi itu. Menandatangani sebuah surat yang menandai sebuah perpisahan. Bagaimanapun itu adalah bukti berakhirnya sebuah kesepakatan sepasang suami istri untuk hidup bersama. Meskipun itu terjadi atas kehendakku sendiri, tapi tetap saja menyakitkan.

Sejarah itu tak bisa dihapus begitu saja. Melekat erat dan terikat kuat di ingatan. Tergores di hati dan tergenggam dalam kenangan. Tawa canda, peluh, tangis, dan kehangatan itu pernah ada disana, bahkan mungkin masih terasa hingga kini. Tersisa di wajah anak-anak yang rindu pelukan sayang ayahnya. Terdengar dalam rengekan mereka yang minta ditemani tidur atau bermain. Dan celotehan riang mereka yang minta diajak ke Time Zone.

Fase terberat pun belum lagi dilalui, sidang pertama dan duduk bersama memberitahu anak-anak mengenai perpisahan ayah ibunya. Hari-hari berat yang siap menghadang di depan sana menanti untuk dilalui. Aku selalu mengatakan padanya, taking each day. Satu demi satu. Kalau dijejalkan sekaligus ke kepala dan hati, siapapun akan muntah dan terkapar. Ketika kita tidak bisa membuatnya menjadi lebih ringan, minimal kita mengunyahnya satu persatu.

Aku hanya ingin memeluknya, untuk mengingatkan bahwa dia tidak sendirian. Mendengar rintihannya, menyesap kepahitan dari bibirnya. Ketika aku tak bisa membantu meringankan, setidaknya aku berusaha untuk membuatnya menjadi tidak lebih berat. Meskipun di dalam hati, batinku pun menangis. Menangis untuk keperihan yang sedang dirasakannya, seorang laki-laki tercinta yang aku rela melakukan apapun untuknya. Aku berharap ada tongkat ajaib yang bisa melenyapkan keperihan itu sekejap dengan hanya sederet mantra. Arrrggghhh… sayangnya ini dunia nyata, bukan dunia sihir dan sulap.

2 Responses

  1. themenya ok. tapi fontnya kok kecil banget? ngga bisa di set ke arial medium?

  2. kisahnya bagus mengalir, tapi lanjutan cerita 2009 & 2010 nya mana ??? ditunggu posting terbarunya ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: